About Blog

About Blog : Prediksi Bola Hari ini, Berita Bola Terkini, Jadwal Sepak Bola, Hasil Pertandingan, Lengkap Terbaru

Catenaccio Elegan Juventus Buat Barcelona Tak Berkutik

About Blog – Remuntada kedua yang gencar didengungkan suporter sejati Barcelona pada akhirnya urung terwujud. Keajaiban luar biasa saat singkirkan Paris Saint-Germain di babak 16 besar Liga Champions lalu, tak mampu diulangi untuk tendang Juventus pada fase selanjutnya.

Kamis (20/4) dini hari WIB, Barca harus puas dengan skor imbang kacamata hadapi Juve di Camp Nou. Hasil ini membuat mereka tersingkir di babak perempat-final Liga Champions lewat agregat 3-0. Kegagalan ketiga di fase tersebut dalam empat musim terakhir.

Padahal segala cara sudah dilakukan Barca untuk wujudkan remuntada kedua, lewat arahan taktikal Luis Enrique. Blaugrana kembali menerapkan formasi andalan 4-3-3, mengganti pemain terburuk di leg pertama, Jeremy Mathieu dengan Jordi Alba, menguasai bola hingga 61 persen, hasilkan 13 sepak pojok, hingga lepaskan 17 tembakan ke gawang.

Statistik yang bisa dibilang cukup untuk hadirkan keajaiban berikutnya dengan kebutuhan menang minimal 4-0, berkaca dari duel remuntada kontra PSG lalu. Atau setidaknya paksakan babak perpanjangan waktu dengan kemenangan 3-0, atau setidaknya raih kemenangan entah dengan skor berapapun walau akhirnya tersingkir.

Faktanya duel berakhir imbang kacamata, dengan tempo permainan Barca yang bahkan tak bisa kita sebut terengginas. Bagaimana itu bisa terjadi? Kuncinya tentu ada pada pendekatan taktik sang lawan, Juve.

Simak Juga : Agen Sbobet Terpercaya

Apa yang pelatih Juve, Massimiliano Allegri, terapkan sedikit banyak mengingatkan kita pada duel Italia kontra Spanyol di babak 16 besar Euro 2016 lalu. “Catenaccio Elegan”, mungkin jadi sebutan yang tepat untuk nama taktik tersebut. Karena tak hanya bertahan secara membabi buta, tapi disertai inteligensi taktikal yang tinggi.

Cara bertahan Juve di sepanjang laga ini sejatinya tak jauh beda dengan apa yang mereka lakukan, saat sudah unggul 3-0 di leg pertama lalu. Sistem garis pertahanan rendah, pressure tinggi ketika kehilangan bola, dan jarak antar lini yang begitu rapat. Namun kali ini, tentu saja dengan fokus dan disiplin yang jauh lebih tinggi.

Sistem garis pertahanan rendah memang harus mengorbankan pengikisan daya, kala lakukan transisi serangan balik. Apalagi Juve menggunakan nyaris semua pemainnya untuk bertahan termasuk Gonzalo Higuain, plus Mario Mandzukic — yang di sepanjang laga lebih layak disebut sebagi bek ketimbang winger. Taktik jebakan offside pun otomatis dilenyapkan, dengan Barca yang cuma sekali terjebak sepanjang 90 menit laga.

Namun sistem tersebut terbukti efektif untuk mencegah lawan hadirkan situasi one on one hadapi kiper, yang mana Barca begitu mematikan. Total 21 intersep dilakukan penggawa Juve, untuk membuat sang tuan rumah tak sekalipun hadirkan situasi tersebut. Bahkan Blaugrana dipaksa melakukan 13 dari 17 tembakannya, dari luar kotak penalti dengan hanya satu yang tepat sasaran.

Para penggawa Barca, terutama penggocek ulung layaknya Neymar, juga tak bisa leluasa menguasai bola. Karena ketika mereka melakukannya di area pertahanan Juve, sebanyak dua sampai tiga penggawa lawan langsung lakukan pressure tinggi untuk merebut bola. Jika tidak gagal menguasai bola, kesalahan operan berpotensi terjadi. Sungguh membuat frustrasi.

Hal itu terbukti dari 33 tekel sukses dan 46 sapuan bola yang Bianconeri lakukan. Sementara dari 485 operan yang dilakukan Los Cules di sepanjang laga, mereka cuma meraih akurasi 82 persen yang jadi catatan terburuknya di Liga Champions musim ini.

Sementara itu konsistensi Juve dalam menjaga kerapatan jarak antar lininya tak lebih dari tiga meter, mampu membuat tempo permainan Barca jadi rusak. Anda tentu sepakat jika alur bola Azulgrana dalam membangun serangan di partai ini cenderung lamban. Bukan karena mereka menginginkan itu, tapi karena nyaris semua ruang yang ada sukses ditutup.

Para pengawa Juve juga tak harus buru-buru membuang bola, ketika sanggup memutus serangan Barca. Jarak antar lini yang rapat, memberi mereka opsi lebih dalam menjaga penguasaan bola, membuat tempo jadi jauh lebih lambat, menghemat stamina, dan memacu daya transisi serangan yang berkurang karena garis pertahanan rendah. Jauh dari balutan taktik “Parkir Bus”.

Mendapatkan akurasi umpan sebesar 71 persen dari penguasaan bola sebesar 38 persen dalam 258 operan di sepanjang laga, jelas tak bisa dibilang buruk. Selain itu Juve juga sanggup menegaskan diri tetap bermain dengan elegan, seturut fakta lepasan 14 tembakan dengan empat di antaranya yang tepat sasaran.

Walau begitu bukan berarti taktik yang diterapkan Juve lantas terbilang sempurna. Beberapa kali mereka kecolongan, terutama dari tiga usaha Messi yang sialnya tak dinaungi Dewi Fortuna.

Ketika potensi seperti itu samar-samar tampak, Si Nyonya Tua pun tak punya pilihan lain kecuali lakukan pelanggaran taktikal. Pilihan yang cerdas, karena akhirnya cuma dihukum dua kartu kuning untuk Sami Khedira dan Giorgio Chiellini.

Saat lancarkan serangan balik Juve juga terlihat begitu tegang dan terburu-buru. Setidaknya dua gol bisa mereka curi, lewat usaha berujung mubazir Juan Cuadrado dan Sami Khedira.

Simak Juga : Agen Sbobet

Eleganitas yang diperlihatkan Juve dalam pertandingan besar ini kemudian mendapat apresiasi dari banyak pihak. Salah satunya legenda sepakbola Belanda, Ruud Gullit, yang sudah memperhatikan perkembangan Gianluigi Buffon cs sejak tiga musim terakhir.

“Selamat untuk Juve, karena mereka layak lolos. Mereka lebih baik di leg pertama dan melakukan segalanya dengan bagus pada leg kedua. Mereka memang mengandalkan pertahanan, tapi jangan lupa bahwa pertahanan juga merupakan salah satu elemen terpenting di sepakbola,” sanjung Gullit, seperti dikutip beIN SPORTS.

Tak hanya dari pihak netral, penggawa senior Barca yang tampil di partai ini, Gerard Pique, mengakui Juve mampu tampil lebih baik dari timnya. Ia pun berharap La Vecchia Signora bisa jadi kampiun Liga Champions musim ini.

“Juve adalah tim hebat dan mereka membuktikan lebih baik dari kami, pada pertemuan ini. Mereka diisi banyak pemain Italia yang tahu benar caranya bertahan dengan baik dan benar. Kami juga membuat segalanya jadi lebih sulit untuk diri sendiri. Saya doakan Juve bisa jadi juara Liga Champions musim ini,” tutur Pique pada AS.

Menyingkirkan Barca, tak berarti perjuangan Juve sudah berakhir. Masih ada dua langkah lagi, untuk akhiri puasa gelar Liga Champions selama 21 tahun lamanya. Real Madrid, Atletico Madrid, dan AS Monaco sudah menanti di babak semi-final.

Namun seperti kata Leonardo Bonucci, bukan Juve yang harus takut soal siapa lawan yang akan diladeni pada babak semi-final, tapi para calon lawanlah yang kini sepatutnya gentar menghadapi TIm Hitam Putih!

About Blog Prediksi Bola Hari ini, Berita Bola Terkini, Jadwal Sepak Bola, Hasil Pertandingan, Lengkap Terbaru © 2017 Frontier Theme